{"id":1905,"date":"2024-06-05T13:23:23","date_gmt":"2024-06-05T06:23:23","guid":{"rendered":"https:\/\/appertani.org\/?p=1905"},"modified":"2024-07-03T14:55:20","modified_gmt":"2024-07-03T07:55:20","slug":"bimbingan-teknis-dan-sosialisasi-daring-webinar-episode-1140-propaktani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/appertani.org\/?p=1905","title":{"rendered":"Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Daring (WEBINAR) #EPISODE 1140 PROPAKTANI"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Alih Teknologi Pertanian <\/strong><strong>untuk Meningkatkan Produksi Tanaman Pangan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembelajaran yang diperoleh atas keberhasilan peningkatan produksi tanaman pangan khususnya beras di Indonesia dari negara importir sebelum Revolusi Hijau menjadi negara berswasembada beras untuk pertama kalinya tahun 1984, utamanya karena transfer teknologi melalui sinergi peneliti-penyuluh dan petani. Seiring berjalannya waktu, dengan terbitnya undang undang otonomi daerah dan undang undang SISNAS IPTEK mempengaruhi mekanisme transfer teknologi, ditengah tuntutan peningkatan produksi beras dalam negeri untuk mencapai swasembada dan sebagai lumbung pangan dunia 2045. Dr. Suwandi, Dirjen Tanaman Pangan dalam keynote speechnya menekankan bahwa dalam upaya mencapai peningkatan produksi tanaman pangan diperlukan perubahan sikap, skill\u00a0 dan knowledge. Propaktani episode 1140 yang diorganisir oleh APPERTANI membahas <strong>Alih Teknologi Pertanian untuk Meningkatkan Produksi Tanaman Pangan.<\/strong> Sebagai moderator webinar episode ini adalah Prof. Dr. Ir. Deciyanto Soetopo, MS, Periset Pusat Riset Perkebunan, Orgaisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN yang juga Tim Pakar APPERTANI Bidang Hama dan Penyakit Tanaman.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1906\" src=\"https:\/\/appertani.org\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/WhatsApp-Image-2024-06-02-at-18.20.19-819x1024.jpeg\" alt=\"\" width=\"354\" height=\"443\" srcset=\"https:\/\/appertani.org\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/WhatsApp-Image-2024-06-02-at-18.20.19-819x1024.jpeg 819w, https:\/\/appertani.org\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/WhatsApp-Image-2024-06-02-at-18.20.19-240x300.jpeg 240w, https:\/\/appertani.org\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/WhatsApp-Image-2024-06-02-at-18.20.19-768x960.jpeg 768w, https:\/\/appertani.org\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/WhatsApp-Image-2024-06-02-at-18.20.19-1229x1536.jpeg 1229w, https:\/\/appertani.org\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/WhatsApp-Image-2024-06-02-at-18.20.19-1639x2048.jpeg 1639w, https:\/\/appertani.org\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/WhatsApp-Image-2024-06-02-at-18.20.19-scaled.jpeg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 354px) 100vw, 354px\" \/><\/p>\n<p><strong>Ir. Rachmat\u00a0 Hendayana, MS<\/strong>., Tim Pakar Bidang Keahlian Sosial Ekonomi dan Kelembagaan APPERTANI menyampaikan topik:\u201d <strong>Disrupsi Alih Teknologi Pertanian Mendukung Akselerasi Peningkatan Produksi Tanaman Pangan<\/strong>\u201d, menekankan perlunya \u201cdisrupsi\u201d dalam alih teknologi pertanian untuk mendukung tuntutan peningkatan produksi pangan dalam negeri. Permintaan beras terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk yang akan mencapai\u00a0 354 juta tahun 2045, dengan konsumsi beras meningkat 1,5% ditengah dampak negative perubahan iklim dan degradasi lahan. Tantangan lainnya dalam produksi pangan adalah ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia, ketidakpastian pasar dan harga, serta\u00a0 kurangnya akses terhadap teknologi dan informasi. Teknologi modern membuka peluang baru dan menyediakan solusi inovatif, memungkinkan pemantauan yang akurat dan cepat untuk segera melakukan tindakan korektif. Pertanian presisi, meningkatkan efisiensi penggunaan input pertanian.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1908\" src=\"https:\/\/appertani.org\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Screenshot-2024-06-05-111436.png\" alt=\"\" width=\"553\" height=\"311\" srcset=\"https:\/\/appertani.org\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Screenshot-2024-06-05-111436.png 1920w, https:\/\/appertani.org\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Screenshot-2024-06-05-111436-300x169.png 300w, https:\/\/appertani.org\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Screenshot-2024-06-05-111436-1024x576.png 1024w, https:\/\/appertani.org\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Screenshot-2024-06-05-111436-768x432.png 768w, https:\/\/appertani.org\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Screenshot-2024-06-05-111436-1536x864.png 1536w\" sizes=\"auto, (max-width: 553px) 100vw, 553px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dr. Ir. Maesti Mardiharini, M.Si<\/strong>, \u00a0Periset BRIN dan Tim Pakar APPERTANI dalam Bidang Perilaku dan Dimensi Sosial dalam Ekonomi Kesejahteraan menyampaikan materi dengan topik: \u201c<strong>Optimalisasi Sumber Informasi dan Inovasi Pertanian untuk Peningkatan Produktivitas Berkelanjutan <\/strong>\u201d. Petani memerlukan informasi \u00a0teknik budidaya dan manajemen sumber daya alam \u00a0yang dapat membantu dalam pengambilan \u00a0keputusan yang lebih baik. Informasi tentang perubahan iklim, pasar, dan kebijakan pertanian \u00a0memungkinkan petani beradaptasi dengan kondisi yang terus berubah. Pengetahuan tentang praktik pertanian berkelanjutan akan melindungi lingkungan dan memastikan ketahanan pangan jangka panjang. Inovasi teknologi mempercepat proses produksi, mengurangi kerugian, dan meningkatkan efisiensi. Penggunaan teknologi canggih seperti irigasi cerdas, sensor tanah, dan pemantauan satelit dapat meningkatkan hasil panen. Inovasi membantu mengatasi tantangan seperti perubahan iklim, kekurangan air, dan degradasi lahan. Kebutuhan informasi dan inovasi ,\u00a0 strtegi optimalisasi serta tantangan dan solusi\u00a0 dipaparkan pada webinar kali ini, disertai studi kasus di pedesaan India.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Prof. Dr. Ir. Irsal Las, MS<\/strong>, Ketua dan \u00a0Pakar APPERTANI Bidang Agroklimat dan Kebijakan Sumberdaya Lahan dan Lingkungan menyampaikan materi dengan topik: \u201c<strong>Tantangan Dan Strategi Alih (Transfer-Hilirisasi) \u201cTeknologi-Inovasi Pertanian\u201d Kedepan<\/strong>\u201d. Ketersediaan pangan sangat menentukan level kesejahteran, sumber energi dan gizi utama bagi kehidupan masyarakat, serta menjadi sumber ekonomi rumah tangga\/keluarga. Keberadaan dan ketersediaan pangan berpengaruh dan beririsan dengan ketahanan dan stabilitas politik nasional. Tanaman pangan dominan sebagai komoditas public, teknologi dan informasi yang dihasilkan tidak mudah dikomersialkan, sehingga perlu intervensi pemerintah karena menyangkut kebutuhan semua orang, termasuk sebagai nafkah\/hajat petani sebagai produsen. Tanaman pangan didominasi tanaman semusim yang sensitive cekaman lingkungan yang memerlukan variasi teknologi dan inovasi. Alih teknologi berperan strategis untuk meningkatkan produksi tanaman pangan. Penjabaran strategi percepatan hilirisasi teknologi dan<br \/>\ninovasi pertanian perlu \u00a0melibatkan BRIN, Perguruan tinggi, Lembaga riset lainnya (swasta), Kementan, Pemda dan petani. Pada tahapan menghasilkan produk riset komersial maupun non-komersial Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), PT dan Lembaga riset lainnya yang berperan. Kementan seperti Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) dan Ditjen teknis berperan dalam standarisasi dan diseminasi bersama dengan Lembaga riset dan perguruan tinggi, disamping memberikan umpan balik kepada penghasil produk riset. Pada tahapan hilirisasi perlu melibatkan pemda, swasta dan petani disamping Ditjen teknis, \u00a0BSIP, Lembaga riset dan perguruan tinggi, sekaligus memberi umpan balik mengenai kesesuaian produk riset.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Alih Teknologi Pertanian untuk Meningkatkan Produksi Tanaman Pangan Pembelajaran yang diperoleh atas keberhasilan peningkatan produksi tanaman pangan khususnya beras di Indonesia dari negara importir sebelum Revolusi Hijau menjadi negara berswasembada beras untuk pertama kalinya tahun 1984, utamanya karena transfer teknologi melalui sinergi peneliti-penyuluh dan petani. Seiring berjalannya waktu, dengan terbitnya undang undang otonomi daerah dan undang undang SISNAS IPTEK mempengaruhi mekanisme transfer teknologi, ditengah tuntutan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1908,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,417],"tags":[415,86,270,232,230],"class_list":["post-1905","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-webinar","tag-alih-teknologi-pertanian-untuk-meningkatkan-produksi-tanaman-pangan","tag-appertani","tag-direktorat-tanaman-pangan","tag-propaktani","tag-webinar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/appertani.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1905","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/appertani.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/appertani.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/appertani.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/appertani.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1905"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/appertani.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1905\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1931,"href":"https:\/\/appertani.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1905\/revisions\/1931"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/appertani.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1908"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/appertani.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1905"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/appertani.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1905"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/appertani.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1905"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}